INFERTILITAS
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kesehatan
reproduksi merupakan keadaan sehat menyeluruh, meliputi aspek fisik, mental,
sosial, dan bukan hanya bebas dari penyakit yang berkaitan dengan system
reproduksi dan fungsinya. Sebanyak 60% - 70% pasangan yang sudah menikah akan
memiliki anak pada tahun pertama pernikahan mereka. Sebanyak 20% akan memiliki
anak pada tahun ke-2 dari usia pernikahannya. Sebanyak 10% - 20% sisanya akan
memiliki anak pada tahun ke-3 atau lebih atau tidak pernah memiliki anak.
Walaupun
pasangan suami istri dianggap infertile bukan tidak mungkin kondisi infertile
sesungguhnya hanya dialami oleh sang suami atau sang istri. Hal tersebut dapat
dipahami karena proses pembuahan yang berujung pada kehamilan dan lahirnya
seorang manusia baru merupakan kerjasama antara suami dan istri. Kerjasama tersebut
mengandung arti bahwa dua faktor yang harus dipenuhi adalah : Suami memiliki
sistem dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan dan
menyalurkan sel kelamin pria (spermatozoa) ke dalam organ reproduksi istri.
Istri memiliki sistem dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu
menghasilkan sel kelamin wanita (sel telur atau ovarium). (Djuwantono, 2008,2).
Menurut
penelitian Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) di Jakarta, 36%
infertilas terjadi pada pria dan 64% terjadi pada wanita. Penelitian lain
menunjukan di angka kejadian infertilitas wanita terjadi sekitar 15% pada usia
produktif (30-34 tahun), meningkat sampai dengan 30% pada usia 35-39 tahun dan
64% pada usia 40-44 tahun. (PERSI, 2001)
World
Health Organization (WHO) mengatakan bahwa jumlah pasangan infertil sebanyak
36% diakibatkan adanya kelainan pada pria, sedangkan 64% berada pada wanita.
Hal ini di alami oleh 17% pasangan yang sudah menikah lebih dari 2 tahun yang
belum mengalami tanda-tanda kehamilan bahkan sama sekali belum pernah hamil.
WHO juga memperkirakan sekitar 50-80 juta pasutri (1 dari 7 pasangan) memiliki
masalah infertilitas, dan setiap tahun muncul sekitar 2 juta pasangan infertil.
(WHO, 2011)
Kesehatan
reproduksi bukan hanya membahas masalah kehamilan atau persalinan, tetapi
mencakup seluruh siklus kehidupan wanita yang salah satunya adalah masa
menopause, yaitu suatu masa yang dimulai pada akhir masa reproduksi dan
berakhir pada masa senium (lanjut usia), yaitu pada usia 40 – 65 tahun. Pada
usia ini akan banyak muncul masalah kesehatan karena masalah kesehatan sangat
erat kaitannya dengan peningkatan usia. Perkembangan dan fungsi seksual wanita
secara normal dipengaruhi oleh sistem poros hipotalamus-hipofisis-gonad yang
merangsang dan mengatur produksi hormone-hormon seks yang dibutuhkan.
Badan
Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan Umur Harapan Hidup (UHH) orang Indonesia
adalah 75 tahun. Umur harapan hidup
wanita adalah 67 tahun dan pria 63 tahun. Hal ini berarti wanita
memiliki UUH lebih tinggi dari pada pria dan akan menghadapi masalah kesehatan
yang lebih rumit.
Wanita
adalah pihak yang sering kali mengalami perasaan tertekan pada pasangan
infertilitas (Sultan & Tahir, 2011). Perbedaan tekanan psikologis pada
istri juga terlihat pada hasil penelitian Musa et al. (2014), yang menyatakan
istri secara signifikan mengalami stres 31%, kecemasan 69%, dan depresi 39%,
dan suami yang mengalami stres 23%, kecemasan 19%, dan depresi 19%. Gangguan
psikologis yang dialami dapat menghambat kehamilan. Tekanan jiwa pada istri
akan menyebabkan terganggunya ovulasi, sel telur tidak bisa diproduksi, dimana
menyebabkan saluran telur mengalami spasme sehingga sulit dilewati sel telur
atau spermatozoa (Manuaba, 2010).
Ketidakmampuan
wanita untuk hamil membuat wanita sering mengalami peristiwa yang tidak
menyenangkan bila dibandingkan dengan pria. Hampir 70% Wanita infertil di
Andhra Pradesh India dilaporkan mengalami kekerasan fisik baik secara verbal
ataupun non verbal (Sultan & Tahir, 2011). Penelitian lain dilakukan di
Pakistan mengungkapkan bahwa 69% dari wanita infertil disalahkan oleh mertua
atas infertilitas yang dialaminya, diikuti 38% diceraikan atau dikirim kembali
kepada orang tua mereka (Ali et al., 2011).
Budaya
masyarakat yang menganggap anak adalah sebagai bentuk jaminan sosial di usia
tua dan mampu mengabadikan garis keturunan keluarga, membuat pasangan infertil
mengalami pandangan negatif di lingkungan masyarakat sekitarnya (Alhassan et
al., 2014). Masyarakat Indonesia yang menganut sistem kekerabatan patriarki
meletakkan suami sebagai pengambil keputusan tertinggi dalam keluarga, termasuk
keputusan perempuan untuk menentukan hak-hak reproduksinya. Hal ini tampaknya
juga akan mempengaruhi terhadap cara pandang masyarakat terhadap perempuan dengan
masalah infertilitas serta arti penting keberadaan anak dalam sebuah keluarga
(Koentjaraningrat, 2008). Sangat berbeda
dengan masyarakat yang menganut budaya sistem kekerabatan matriarki yaitu
mengambil garis keturunan ibu, perempuan dianggap kuat dan sangat dilindungi
hak-hak pusaka diwariskan di tangan ibu dan anak-anak perempuannya (Mahyuddin,
2009).
Infertilitas
bisa mengakibatkan efek psikologis yang sangat berat pada suami/istri.
Ketidakmampuan mendapat keturunan bisa memengaruhi semua aspek hidup suami/istri
(Siswadi, 2007). Manusia sebagai individu yang unik akan memiliki pengalaman
yang berbeda pula dalam menghadapi masalah dan program pengobatan terhadap
infertilitas yang membutuhkan waktu serta biaya yang banyak. Jika setelah
melakukan pengobatan infertilitas, pasangan segera mendapatkan anak tentu
segala upaya tidak sia-sia. Akan tetapi, ada pula pasangan yang tidak kunjung
memperoleh keturunan setelah melakukan berbagai macam prosedur pemeriksaan dan
pengobatan. Banyak pasutri yang memilih bercerai karena salah satu dari mereka
tidak dapat memberi keturunan.
Bahkan
UU Perkawinan tahun 1974 yang mengatur ketentuan perkawinan Indonesia
menyatakan bahwa seorang suami diizinkan untuk menikah dengan lebih dari satu
wanita, bila wanita yang sebelumnya dinikahi tidak mampu melahirkan anak
(Sarwono dalam Sugiarti, 2008).
Bila
dikaji lebih lanjut, UU Perkawinan tersebut terkesan memojokkan wanita yang
tidak mampu untuk memiliki anak. Maka dapat disimpulkan bahwa seorang istri
harus merelakan suaminya untuk menikah dengan wanita lain lagi, dan bukan hal
yang mudah bagi wanita untuk dapat menerima keputusan tersebut dengan baik. Di
Indonesia, sosok istri yang dianggap ideal adalah istri yang mampu memiliki
anak, dan bila ia tidak mampu, dirinya harus merelakan suaminya untuk
mendapatkan keturunan (Sarwono dalam Sugiarti, 2008).
Penelitian yang
dilakukan oleh Ruspical Fachruddin pada tahun 2011 tentang mekanisme koping
pasangan infertilitas di Bungoro Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep. Dapat
diambil kesimpulan dari hasil penelitian yang diperolehnya, yaitu dari kelima
pasangan infertilitas mengenai mekanisme koping pasangan infertilitas ditemukan
bahwa respon yang ditimbulkan oleh kondisi tersebut adalah kesedihan, cemburu / iri, cemas, marah
dan isolasi.
B. Tujuan
1. Mengetahui
pengertian infertilitas
2. Mengetahui
bagaimana cara pemeriksaan infertilitas.
3. Mengetahui apa
saja factor yang mempengaruhi infertilitas
4. Mengetahui
masalah yang timbul pada infertilitas.
5. Mengetahui
bagaimana bagaimana manajemen kebidanan pada infertilitas.
6. Mengetahui
pengaruh yang akan ditimbulkan dari infertilitas bagi penderita.
C. Manfaat
Dapat
menambah pengetahuan mengenai infertilitas, factor penyebab infertilitas dan
dampak yang ditimbulkan oleh infertilitas itu sendiri dalam sudut pandang
kesehatan dan psikologis
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Pengertian
Infertilitas
Infertilitas
adalah kegagalan dari pasangan suami istri untuk mengalami kehamilan setelah
melakukan hubungan seksual, tanpa kontrasepsi, selama satu tahun. (Sarwono,
497).
Infertilitas
(kemandulan) adalah ketidakmampuan atau penurunan kemampuan menghasilkan
keturunan (Elizabeth, 639). Ketidaksuburan (Infertil) adalah suatu kondisi
dimana pasangan suami istri belum mampu memiliki anak walaupun telah melakukan
hubungan seksual sebanyak 2 – 3 kali seminggu dalam kurun waktu 1 tahun sengan
tanpa menggunakan alat kontrasepsi jenis apapun. (Djuwantono, 2008, hal : 1).
Secara
medis infertile dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
a. Infertile primer
Berarti pasangan suami istri belum mampu dan belum
pernah memiliki anak setelah satu tahun berhubungan seksual sebanyak 2 – 3
perminggu tanpa menggunakan laat kontrasepsi dalam bentuk apapun.
b. Infertile
sekunder
Berarti pasangan suami istri telah atau pernah
memiliki anak sebelumnya, tetapi saat ini belum mampu memiliki anak lagi
setelah satu tahun berhubungan seksual sebanyak 2 – 3 kali perminggu tanpa
menggunakan atau metode kontrasepsi jenis apapun. (Djuwantono, 2008, hal : 2).
Berdasarkan hal
yang telah disebutkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pasangan suami istri
dianggap infertile apabila memenuhi syarat-syarat berikut :
a.) Pasangan
tersebut berkeinginan untuk memiliki anak.
b.) Selama 1 tahun
atau lebih berhubungan seksual, istri belum mendapatkan kehamilan.
c.) Frekuensi hubungan
seksual minimal 2-3 kali dalam setiap minggunya.
d.) Istri maupun
suami tidak pernah menggunakan alat atau metode kontrasepsi, baik kondom,
obat-obatan, dan alat lain yang berfungsi untuk mencegah kehamilan.
(Djuwantono, 2008, hal : 3).
B. Pemeriksaan Infertilitas
Syarat
pemeriksaan pasangan infertile adalah :
1. Istri yang
berumur 20 -30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha untuk mendapatkan
anak selama 1 tahun. Pemeriksaan dapat dilakukan dini apabila :
a.) Pernah mengalami
keguguran berulang.
b.) Diketahui mengidap
kelainan endokrin.
c.) Pernah mengalami
peradangan rongga perut dan rongga panggul.
d.) Pernah mengalami
bedah ginekologi.
2. Istri yang
berumur antara 31 – 35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama pasangan
itu datang untuk pemeriksaan.
3. Pasangan infertile
yang berusia 36 – 40 tahun hanya dilakukan pemeriksaan infertilitas kalau belum
mempunyaianak dari perkawinan ini.
4. Pemeriksaan
infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertile yang salah satu anggotanya
mengdap penyakit yang dapat membahayakan kesehatan istri dan anaknya.
Jenis
pemeriksaan infertilitas adalah :
1. Anamnesis
lengkap :
·
Identitas pasangan.
·
Riwayat perkawinan.
·
Riwayat kesehatan keluarga.
·
Riwayat penyakit dahulu.
·
Riwayat obstetri.
·
Riwayat menstruasi.
2. Pemeriksaan
fisik :
·
Pemeriksaan umum secara head to toe.
·
Pemeriksaan Tanda-tanda vital.
·
Pemeriksaan payudara.
·
Pemeriksaan abdominal.
3. Pemeriksaan
ginekologi.
4. Pemeriksaan
Diagnostic.
5. Pemeriksaan
ovulasi.
Pencatatan suhu basal dalam kurve. Bila siklus
anovulantoir basal bersifat bifasis, sedangkan bila terjadi ovulasi terdapat
kenaikan suhu basal yang disebabkan karena pengaruh progesterone.
6. Pemeriksaan
vaginal smear.
Pembentukan progesterone menimbulkan perubahan
sitologis pada sel-sel superfisial.
7. Pemeriksaan
lender serviks.
Progesterone menimbulkan sifat lender servik menjadi
kental dan membentuk gambaran fern bila lender dikeringkan.
8. Pemeriksaan
endometrium.
Kuretase pada fase premenstrual menghasilkan
endometrium dalam stadium sekresi dengan gambaran histologis khas.
9. Pemeriksaan
hormone entrogen, ICSH, pregnadiol.
10. Perhitungan masa
subur.
Bila siklus wanita berlangsung teratur selama 28 hari,
maka suburnya kira-kira terjadi 2 minggu setelah HPHT (hari ke-14).
Kadang-kadang ditandai oleh nyeri di bagian bawah perut, keluarnya lender
banyak dari vagina.
11. Pemeriksaan
sperma :
·
Sperma diperiksa dan ditampung setelah pasangan tidak
melakukan senggama selama 3 hari dan diperiksa segera setelah dikeluarkan.
·
Penilaian sperma meliputi :
Makroskopis : Warna, volume, pH, bau
Mikroskopis : Jumlah, bentu, motilitas, morpologi.
12. Pemeriksaan
lender servik :
·
Kekentalan lender servik
Pada stadium proliferasi lender servik agak cair
karena pengaruh estrogen, sedangkan pada stadium sekresi lender servik kental
karena pengaruh progesterone.
·
pH lender servik. Lendir servik bersifat alkalis
dengan pH 9.
·
Enzim proteolitik.
Mempengaruhi
viskositas lender servik
·
Immunoglobulin
Dapat menimbulkan aglutinasi dari sperma.
Pemeriksaannya menggunakan :
·
Sim Huhner Test : Adalah uji paksa senggama pasca
senggama pada pertengahan siklus haid, dilakukan 2 jam setelah senggama untuk
menilai ketahanan hidup sperma dalam lender servik.
·
Kurzrock Miller Test : Adalah uji sederhana untuk
mengukur kemampuan sperma masuk ke dalam lender servik.
·
Pemeriksaan tuba.
Pertubasi (Rubin Test) : Adalah pemeriksaan patensi
tuba dengan jalan meniupkan gas CO2 melalui kanula / kateter folley
yang dipasang pada kanalis servikalis, apabila salah satu atau kedua tuba
paten, maka gas akan mengalir bebas kedalan kavum peritonei.
Histerosalpingografi : Adalah pemeriksaan untuk
mengetahui bentuk kavum uteri dan bentuk dari saluran tuba apabila terdapat
sumbatan, dengan menyuntikan cairan kontras ke dalam uterus.
Kuldoskopi : Untuk melihat secara langsung melalui
suatu alat keadaan tuba dan ovarium.
Laparaskopi : Untuk melihatsecara langsung keadaan
genitalia interna dan sekitarnya.
Pemeriksaan endometrium : Dilakukan pada saat stadium
premenstruil, dilakukan mikrokuretage untuk mengetahui gambaran histologis
stadium sekresi.
C. Faktor yang Mempengaruhi Infertilitas
Faktor-faktor
yang mempengaruhi infertilitas antara lain :
1. Umur
Kemampuan reproduksi wanita menurun drastic setelah
umur 35 tahun, hal ini dikarenakan cadangan sel telur yang semakin sedikit.
Fase reproduksi wanita adalah masa system reproduksi wanita berjalan optimal
sehingga wanita berkemampuan untuk hamil. Fase ini dimulai setelah fase
pubertas sampai sebelum fase menopause.
Fase pubertas wanita adalah fase disaat wanita mulai
dapat bereproduksi, yang ditandai dengan haid untuk pertama kalinya (disebut
menarce) dan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder, yaitu membesarnya
payudara, tumbuhnya rambut di sekitar alat kelamin dan timbunan lemak di
pinggul.
Fase pubertas wanita terjadi pada umur 11 -13 tahun.
Adapun fase menopause adalah fase disaat haid berhenti. Fase menopause terjadi
pada umur 45 – 55 tahun.
Pada fase reproduksi, wanita memiliki 400 sel telur.
Semenjak wanita mengalami menarce sampai menopause, wanita mengalami menstruasi
secara periodic yaitu pelepasan satu sel telur. Jadi, wanita dapat mengalami
menstruasi sampai sekitar 400 kali. Pada umur 35 tahun simpanan sel telur
menipis dan mulai terjadi perubahan keseimbangan hormone sehingga kesempatan
wanita untuk bias hamil menurun drastis. Kualitas sel telur yang dihasilkan
menurun sehingga tingkat keguguran meningkat. Sampai pada akhirnya kira-kira
umur 45 tahun sel telur habis sehingga wanita tidak menstruasi lagi alias yidak
dapat hamil lagi. Pemeriksaan cadangan sel telur dapat dilakukan dengan
pemeriksaan darah atau USG saar menstruasi hari ke-2 atau ke-3.
2. Lama
infertilitas.
Berdasarkan laporan klinik fertilitas di Surabaya,
lebih dari 50% pasangan dengan masalah infertilitas datang terlambat. Terlambat
dalam artian umur makin tua, penyakit pada organ reproduksi yang makin parah
dan makin terbatasnya jenis pengobatan yang sesuai dengan pasangan tersebut.
3. Stress
Stress memicu pengeluaran hormon kortisol yang
mempengaruhi pengaturan hormon reproduksi.
4. Lingkungan
Paparan terhadap racun seperti lem, bahan pelarut
organic yang mudah menguap, silikon, pestisida, obat-obatan (misalnya : Obat
pelangsing dan obat rekreasional (rokok,
kafein, dan alkohol) dapat mempengaruhi sistem reproduksi. Kafein terkandung
dalam kopi dan teh.
5. Hubungan seksual
Penyebab infertilitas ditinjau dari segi hubungan
seksual meliputi : Frekuensi, posisi danmelakukannya tidak pada masa subur.
Hubungan intim (disebut coitus) atau onani (disebut masturbasi) yang dilakukan
setiap hari akan mengurangi jumlah dan kepadatan sperma. Frekuensi yang dianjurkan
adalah 2 – 3 kali seminggu sehingga memberi waktu testis memproduksi sperma
dalam jumlah cukup dan matang.
6. Kondisi
reproduksi wanita, meliputi servik, uterus dan sel telur.
7. Kondisi
reproduksi pria, yaitu kualitas sperma dan seksualitas.
8. Posisi
Infertilitas dipengaruhi oleh hubungan seksual yang
berkualitas, yaitu dilakukan dengan frekuensi 2 – 3 kali seminggu, terjadi
penetrasi dan tanpa kontrasepsi. Penetrasi adalah masuknya penis ke vagina
sehingga sperma dapat dikeluarkan yang nantinya akan bertemu sel telur yang
“menunggu” di saluran telur wanita. Penetrasi terjadi bila penis tegang
(ereksi). Oleh karena itu gangguan ereksi (disebut impotensi) dapat menyebabkan
infertilitas. Penetrasi yang optimal dilakukan dengan cara posisi pria diatas,
wanita dibawah. Sebagai tambahan, dibawah pantat wanita diberi bantal agar
sperma dapat tertampung. Dianjurkan, setelah wanita menerima sperma, wanita
berbaring selama 10 menit sampai 1 jam bertujuan memberi waktu pada sperma
bergerak menuju saluran telur untuk bertemu sel telur.
9. Masa subur
Marak di tengah masyarakat bahwa supaya bias hamil,
saat berhubungan seksual wanita harus orgasme. Pernyataan itu keliru, karena
kehamilan terjadi bila sel telur san sperma bertemu. Hal yang juga perlu
diingat adalah bahwa sel telur tidak dilepaskan karna orgasme. Satu sel telur
dilepaskan oleh indung telur dalam setiap menstruasi, yaitu 14 hari sebelum
menstruasi berikutnya. Peristiwa itu disebut ovulasi. Sel telur kemudian
menunggu sperma di saluran telur (tuba
falopi) selama kurang lebih 48 jam. Masa tersebut disebut masa subur.
D. Menentukan Kesuburan Pria
Sperma merupakan
cairan yang tersusun dari berbagai produk organ-organ pada sistem reproduksi
pria. Secara lebih rinci, komposisi di dalamnya antara lain : 1.) spermatozoa,
2.) cairan yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar tambahan yang mengandung
nutrisi dan pelindung spermatozoa serta pelumas. Berdasarkan komposisi
tersebut, analisis sperma mampu menghasilkan data yang akurat dan dapat
dijadikan analisis kesuburan seorang pria. Sebagai contoh, dapat digambarkan
hal-hal sebagai berikut (Herlianto, 1971) :
1. Apabila sperma
memiliki volume, warna, dan kekentalan yang normal, tetapi spermatozoa tidak
ditemukan sama sekali, jumlahnya kurang dari jumlah normal, memiliki bentuk yang
tidak lazim, atau belum mencapai kematangan, hal tersebut merupakan indikasi
bahwa terdapat gangguan pada testis.
2. Apabila sperma
mengandung spermatozoa dalam jumlah dan bentuk yang normal, tetapi memiliki
volume, warna serta kekentalan yang tidak normal, hal tersebut merupakan
indikasi adanya gangguan pada kelenjar-kelenjar tambahan. Gangguan pada
kelenjar tambahan juga dapat diindikasikan dengan banyak ditemukannya
spermatozoa yang mati. Hal tersebut secara logis berhubungan dengan fungsi
cairan yang dihasilkan kelenjar tambahan sebagai nutrisi dan pelindung
spermatozoa.
3. Apabila saat
ejakulasi sperma tidak dikeluarkan sama sekali, hal tersebut mengindikasikan
kemungkinan terjadinya gangguan multifaktorial, antara lain gangguan pada
saluran keluar sperma yang disertai gangguan pada testis maupun
kelenjar-kelenjar tambahan. Sumbatan (obstruksi) atau tidak terdapatnya saluran
sperma tertentu merupakan akibat dari kelainan sejak lahir (Kongenital) juga
memiliki kemungkinan untuk menjadi penyebab tidak dikeluarkannya sperma sama
sekali.
Berdasarkan fakta ilmiah tersebut, analisis sperma
dapat menjadi sebuah tes kesuburan yang dapat diandalkan untuk menemukan
gangguan pada sistem reproduksi pria yang pada akhirnya mengakibatkan
infertilitas (Permadi,2008). :
a. Normozoozpermia
: karakteristik normal
b. Ologozoospermia
: konsentrasi spermatozoa kurang dari 20 juta per ml
c. Asthenozoospermia
: jumlah sperma yang masih hidup dan bergerak secara aktif, dalam waktu 1 jam
setelah ajakulasi, kurang dari 50%
d. Teratozoospermia
: jumlah sperma dengan morfologi normal kurang dari 30%
e. Oligoasthenoteraatozoospermia
: kelainan campuran dari 3 variabel yang telah disebutkan sebelumnya
f. Azoospermia :
tidak adanya spermatozoa dalam sperma
g. Aspermia : sama
sekali tidak terjadi ejakulasi sperma.
E. Menguji Kesuburan Wanita
Sistem
reproduksi wanita dapat dibagi berdasarkan fungsi utama dari tiap organ yang
menyusunnya. Fungsi utama tersebut antara lain (Permadi,2008) :
·
Produksi dan pematangan sel telur di ovarium
·
Penghantaran sel telur yang telah matang ke tempat
terjadinya pembuahan (ampulla tuba) dan zigot yang dihasilkan ke Rahim
·
Implantasi zigot dan perkembangan embrio hingga
menjadi bayi dalam Rahim
Dengan memahami
hal tersebut, prinsip pemeriksaan kesuburan yang dapat dilakukan adalah dengann
memeriksa baik tidaknya fungsi utama organ-organ reproduksi dijalankan. Dengan
demikian, prinsip-prinsip utama pemeriksaan kesuburan wanita adalah
(Permadi,2008)
·
Memeriksa apakah ovarium mampu menghasilkan sel telur
matang dan melepaskannya saat ovulasi
·
Memeriksa ada tidaknya sumbatan dalam tuba
·
Memeriksa ada tidaknya kelainan dalam rahim yang mampu
menghambat terjadinya implantasi dan perkembangan janin
Obat-obat
Infertilitas Pria adalah dengan terapi dan menggunakan obat-obat lain yang juga
sering diberikan dokter sebagai obat pendukung dalam meningkatkan kesuburan
adalah vitamin dan antibiotic. Pada umumnya, vitamin yang diberikan dokter
adalah vitamin E. vitamin E telah terbukti memiliki efek antioksidan yang
tinggi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup sel-sel tubuh, termasuk kerja
sel yang berkaitan dengan produksi dan perkembangan spermatozoa hingga matang
(Permadi,2008).
Antibiotik hanya
diberikan apabila sang pria terbukti mengalami infeksi pada organ ataupun
saluran reproduksinya. Antibiotik hanya diberikan atas instruksi dokter dan
digunakan sesuai dengan petunjuk penggunanya (Permadi,2008).
Akibat dari
pemakaian antibiotik yang tidak sesuai dengan aturan pakai adalah kuman
penyebab infeksi yang menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut. Dengan
demikian, hal tersebut justru menyebabkan bertambah parahnya kondisi sakit yang
ada (Permadi,2008).
F. Masalah yang Timbul Akibat Infertilitas
a.) Kehilangan
kepercayaan diri pada pasangan suami istri karena menganggap diri tidak mampu
mempunyai keturunan.
b.) Timbul konflik
dalam rumah tangga disebabkan karena salah satu pasangan merasa kecewa terhadap
pasangannya yang tidak bias membuat keturunan sampai berakhir dengan
perceraian.
c.) Masih ada
pandangan masyarakat bahwa terjadinya infertilitas itu yang disalahkan adalah
wanita, karena wanita baru bias diterima status warga masyarakat sepenuhnya
apabila telah menjadi seorang ibu.
d.) Trauma dan
kecewa terhadap diri sendiri karena merasa tidak sempurna sebagai wanita.
e.) Menimbulkan
perasaan rendah diri dan kebuntuan di masa-masa mendatang.
f.) Mengalihkan
fungsi keibuan pada interes-interes lain seperti mengutamakan pada kegiatan
erotik dan seksual.
g.) Mengabdikan diri
pada suatu ideology atau satu interes emosional tertentu.
G. Manajemen Kebidanan pada Infertilitas.
Peran bidan
komunitas terhadap tingkat kesuburan :
a.) Melakukan
rujukan sehingga pasangan infertile mendapat penanganan yang tepat.
b.) Konseling
tentang variasi dalam hubungan seksual, cara menghitung masa subur, makanan
yang dapat meningkatkan kesuburan suami atau istri.
c.) Mencari
ketenangan psikologi wanita.
d.) Konseling
infertilitas.
e.) Bersikap baik
dan simpatik terhadap pasangan yang mengalami infertilitas, karena mereka
membutuhkan dukungan dan pengertian.
f.) Memberikan
pengertian terhadap pasangan untuk menghargai satu sama lain. Jangan saling
menyalahkan.
g.) Memberi support
bahwa keadaan seperti ini tidak hanya menimpa satu pasangan saja, berikan
alternative pengobatan lain yang masih bias diusahakan.
h.) Membantu mencari
alternative untuk mengadopsi anak.
i.) Membantu
pasangan untuk mencari jalan lain supaya dekat dengan anak-anak an bisa
menerima kenyataan hidup.
H. Dampak Infertilitas Bagi Penderita
Pada
tingkat sosial, dalam banyak kebudayaan infertilitas berhubungan dengan stigma sosial dan merupakan sesuatu
hal tabu untuk dibicarakan, pasangan
yang tidak bisa mempunyai anak, dianggap melanggar norma-norma sosial
yang dapat mengakibatkan perceraian, sehingga
pasangan yang subur kemungkinan
memiliki anak dengan pasangan barunya.
Ketidakhadiran
anak dapat menimbulkan masalah dalam perkawinan. Griel (1991) melaporkan bahwa
infertilitas akan meningkatkan ketegangan dalam perkawinan. Banyak perkawinan
yang terancam ketahanannya dalam menghadapi krisis ini. Hal ini dipengaruhi
oleh ketidakmampuan dalam mengekspresikan kemarahan, rasa sakit, dan
kekecewaan, sehingga menimbulkan frustasi. Berkaitan dengan nilai anak,
aspek-aspek kepuasan perkawinan berupa interaksi yang intim dan rasa memiliki
akan semakin bernilai dan dibutuhkan (Dobos dkk, 1990). Ketidakhadiran anak
akan menurunkan kepuasan perkawinan dan semakin tingginya kemungkinan
menimbulkan perceraian.
Infertilitas
membawa implikasi psikologis, terutama pada perempuan. Sumber tekanan
sosio-psikologis pada perempuan berkaitan erat dengan kodrat deterministiknya
untuk mengandung dan melahirkan anak. Sementara pada lakilaki adalah perasaan
sedih, kecewa, kecemasan dan kekhawatiran menghadapi masa tua.
Dampak
psikologis yang dialami menyangkut kondisi internal, hubungan interpersonal dan seksual suami istri.
Berdasarkan beberapa penelitian
mengungkapkan bahwa infertilitas yang dialami oleh seorang istri
akan menimbulkan dampak psikologis
yang cukup berat.
Dampak psikologis yang
dialami yaitu munculnya perasaan
frustasi, depresi, isolasi, marah, dan rasa bersalah juga cemas, perasaan tidak sempurna dan kurang berarti. Walaupun
masalah infertilitas tidak mengancam jiwa, tapi bagi banyak orang yang
mengalaminya ini berdampak yang berpengaruh terhadap kehidupan keluarga. Selain
itu infertilitas berdampak buruk terhadap hubungan
suami istri. Mereka
menjadi jauh satu sama lainnya,
hubungan menjadi kurang
harmonis, kehidupan seks antara suami tidak lagi hangat dan mesra.
Cemburu
atau Iri merupakan reaksi dari gabungan atau perpaduan antara bentuk emosi sikap
membandingkan dirinya dengan keadaan atau dengan orang lain. Dirinya merasa
kurang, merasa kalah sehingga timbul keinginan menyamai bahkan melebihi.
(Sundari,2005)
Isolasi
adalah kecenderungan menghindari berhubungan secara intim dengan orang lain,
kecenderungan dalam lingkup yang amat terbatas atau menjadi sangat tertutup
pada lingkungan.
Marah
adalah respon yang juga muncul pada wanita atau pasangan infertilitas yang
merupakan suatu respon yang diakibatkan oleh faktor merasa kehilangan, sehingga
ketika dibahas tentang masalah keturunan individu yang mengalami infertil
mengalami gangguan konsep diri dan semakin tidak puas dengan perkawinannya.
Cemas
adalah suatu keadaan tidak mudah, prihatin, rasa takut, prasangka atau perasaan
tidak berdaya terhadap suatu ancaman yang akan datang dan tidak
teridentifikasikan (Afi Darti, 2006).
I. Jurnal yang Berkaitan Dengan Materi
1.
Judul : Hubungan Infertil Dengan Respon Psikologis
Istri Yang Mengalami Infertil Di Kota Padang Tahun 2015.
Abstrak :
Infertilitas adalah ketidakmampuan
untuk hamil setelah sekurang-kurangnya satu tahun berhubungan seksual dan
sedikitnya empat kali seminggu tanpa kontrasepsi. Sejak Januari hingga
September 2015 kasus infertilitas yang tercatat di klinik dokter “P” mencapai
angka 149 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan infertil
dengan respon psikologis istri yang mengalami infertil. Jenis penelitian ini
adalah Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Dilaksanakan di Klinik
dokter Putri Sri Lasmini SP.OG (K-Fer) di Kota Padang pada bulan
Agustus-September 2015. Dengan populasi sebanyak 32 orang, maka didapatkan
jumlah sampel sebanyak 23 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan kuesioner dan data diolah
dan dianalisis dengan komputer. Hasil penelitian Sebagian besar responden
mengalami infertil primer yaitu sebanyak 20 responden (86,96%). Lebih dari
separoh responden baik yang infertil primer maupun infertil sekunder memiliki
respon psikologis Mal Adaptif yaitu sebanyak 14 responden (60,87%). Tidak ada
hubungan bermakna antara infertil dengan respon psikologis istri yang mengalami
infertil di Kota Padang tahun 2015, p-value 1.000. Dengan demikian Diharapkan
hasil penelitian ini bisa dijadikan masukan, informasi dan edukasi bagi
pasangan suami istri/ibu tentang bagaimanakah respon psikologis yang ada pada
istri yang mengalami infertil, dan yang pasti tujuan setelah mengetahui tentang
respon psikologis ini pasangan suami istri tersebut akan memberikan respon psikologis
yang positif tentang ketidaksuburan ini demi meningkatkan kualitas hidup
kedepannya.
Kesimpulan :
a. Sebagian besar
responden mengalami infertilitas yaitu sebanyak 20 responden (86,96%).
b. Lebih dari
separoh responden baik yang infertil primer maupun infertil sekunder memiliki
respon psikologis Mal Adaptif yaitu sebanyak 14 responden (60,87%).
c. Tidak ada
hubungan bermakna antara infertil dengan respon psikologis istri yang mengalami
infertil di Kota Padang tahun 2014, p-value 1.000.
2.
Judul : Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penerimaan
Diri Pada Wanita Infertilitas.
Abstrak :
This study aims to determine the factors that
influence self-acceptance in women who experience infertility. This study uses
a qualitative method approach to the case study technique. Characteristics
among the study subjects had been married for at least three years, had never
given birth, and there is no any proximity to the researchers. The data was
collected using the methods of observation and interviews. Data were analyzed
using qualitative data analysis with a technical examination of the validity of
the data using the technique of triangulation. Triangulation is used in this
study is the triangulation of data sources and methods. Triangulation of data
sources that extract data from research subjects and significant others.
Triangulation method to get the data by observation, interviews, and
documentation. The study found that the two subjects in this study is able to
accept yourself, but picture yourself acceptance in both different and
influenced by different factors as well. At first the subject there are several
internal factors that influence the acceptance of the subject, including an
understanding of self, realistic expectations, the influence of success, the
identification of the person who has a good adjustment, self-concept is stable.
External factors that influence the acceptance of him as there are no obstacles
in the environment, positive social attitudes, and parenting little future. On
the subject of the second, it can be seen several internal factors that
influence the acceptance of himself that is, an understanding of themselves,
have realistic expectations, did not experience severe emotional disturbance,
identification with a person who has a good adjustment, a broad perspective of
self, and self-concept subjects stable. In addition, there are also external
factors that affect selfacceptance on the subject that the two of them, good
parenting in childhood, positive social attitudes, and there are no obstacles
in the environment. The third external factor is equal to the external factors
that affect self-acceptance on the subject first.
Kesimpulan :
Pada dasarnya setiap manusia
hidup dengan karakteristik pribadi yang unik dan berbeda satu sama lain.
Demikian halnya pada kedua subjek dalam penelitian ini. Kedua subjek memiliki
penerimaan diri yang berbeda satu sama lain, terutama prosesnya. Berdasarkan
hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kedua subjek dapat dikatakan
telah mencapai penerimaan diri.
Penerimaan diri antara keduanya dipengaruhi oleh faktor internal dan
faktor eksternal. Walaupun keduanya dihadapkan dengan kondisi yang sama, yaitu
belum memiliki keturunan hingga lebih dari dua tahun masa pernikahan.
Penerimaan diri pada subjek
pertama dipengaruhi oleh beberapa faktor internal yang paling mendasari
diantaranya, pemahaman tentang diri sendiri, harapan yang realistis, tidak
adanya gangguan emosional yang berat, pengaruh keberhasilan, konsep diri yang stabil.
Tiga faktor eksternal yang mempengaruhi penerimaan diri pada subjek pertama
diantaranya mendapatkan sikap-sikap sosial yang positif, tidak adanya hambatan
di lingkungan, dan pola asuh yang baik dimasa kecil. Pada subjek kedua faktor
internal yang mempengaruhinya ialah pemahaman tentang diri sendiri, harapan
yang realistis, pengaruh keberhasilan, identifikasi dengan orang yang memiliki
penyesuaian diri yang baik, perspektif diri yang luas, konsep diri yang stabil.
Selain faktor internal, faktor eksternal pun berperan dalam proses penerimaan
diri pada subjek kedua, diantaranya pola asuh di masa kecil, sikap-sikap sosial
yang positif, dan tidak adanya hambatan di laingkungan.
3.
Judul :
Identifikasi dan Pengelolaan Stress Ifertilitas.
Abstrak
Tujuan dilaksanakannya
pernikahan oleh pasangan suami isteri adalah membentuk keluarga yang bahagia.
Membentuk keluarga yang bahagia erat hubungannya dengan masalah keturunan
Kebahagiaan seringkali diartikan sebagai tercapainya tujuan hidup, sementara
tujuan utama berlangsungnya suatu pernikahan adalah mengembangkan keturunan.
Kehadiran anak sangat bernilai baik dari segi ekonomi, sosial, psikologis, dan
agama. Dalam realisasinya tidak semua pasangan mudah memperoleh keturunan seperti yang diharapkan.
Diperkirakan sekitar 20% penduduk Indonesia mengalami gangguan infertilitas.
Hal ini menunjukkan angka infertilitas di Indonesia yang cukup tinggi.
Infertilitas yang dialami
baik oleh salah satu atau kedua pihak dari pasangan suami isteri akan
menimbulkan reaksi-reaksi stres yang disebut dengan stres infertilitas.
Pasangan yang mengalami infertilitas dipertimbangkan berada dalam kondisi
krisis mayor karena tercapainya tujuan utama kehidupan pernikahan mereka
terancam gagal.
Stres infertilitas bersumber
dari stresor internal dan stresor eksternal. Secara teoritis, aspek-aspek stres
infertilitas meliputi aspek seksual, interaksi dengan pasangan, emosional,
sosial, dan ekonomi. Stres infertilitas dapat mempengaruhi kepuasan pernikahan,
berupa ketidakharmonisan dalam hubungan pernikahan, bahkan dapat mengarah ke
perceraian.
Dengan demikian masalah
infertilitas merupakan masalah kependudukan yang perlu segera ditangani.
Menggunakan pendekatan mind-body connection, perlu dipilih upaya pengelolaan
stres yang tepat. Berbagai bentuk menejemen stres yang dapat ditawarkan antara
lain training coping-skills, relaksasi, guided imajery, terapi kognitif, terapi
kelompok, terapi agama, membiasakan pola hidup sehat, dan upaya medis yang
sesuai.
Kesimpulan :
Prevalensi pasangan yang
mengalami infertilitas di Indonesia semakin meningkat sehingga diperkirakan
prevalensi stres infertilitas juga meningkat. Nampaknya perhatian pada
permasalahan demografis yang satu ini masih kurang, termasuk
penelitianpenelitian dan tritmen psikologis terhadap infertilitas yang relatif
masih sedikit. Kalaupun ada pelatihan menejemen stres di klinik infertilitas,
program ini baru menjangkau kalangan menengah ke atas.
Wacana ini diharapkan dapat
menggugah kesadaran pihak yang berkompeten, khususnya ilmuwan dan praktisi
psikologi untuk mengembangkan penelitian dan tritmen psikologis terhadap
pasangan infertil yang dapat terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Bagi
masyarakat umum, wacana ini diharapkan dapat memunculkan kesadaran untuk lebih
“peduli” dan memberikan dukungan sosial kepada pasangan infertil. Belajar dari
pengalaman para pasangan infertil, upaya preventif dapat dilakukan oleh para
calon pengantin dengan menjalani pemeriksaan kesehatan reproduksi pranikah atau
menyamakan visi pernikahan, terutama berkaitan dengan mutlak tidaknya
keberadaan anak dalam pernikahan.
4.
Judul :
Perbedaan Kepuasan Perkawinan AntaraWanita Yang Mengalami Infertilitas Primer
dan Infertilitas Sekunder.
Abstrak :
Penelitian ini bertujuan
untuk menguji perbedaan kepuasan perkawinan antara wanita yang mengalami
infertilitas primer dan infertilitas sekunder, dengan mempertimbangkan stres
infertilitas. Subjek penelitian berjumlah 50 orang wanita infertil yang menjadi pasien di tempat
praktek dokter Kasirun Kasim Putranto, Sp.OG. yang terdiri dari 34 wanita
infertil primer dan 16 wanita infertil sekunder.
Data diperoleh melalui hasil
pengisian Skala Kepuasan Perkawinan, Skala Stres Infertilitas, dan Angket
Infertilitas. Penelitian bersifat kuantitatif. Uji analisis dilakukan
menggunakan perangkat lunak SPSS 12 version.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan kepuasan perkawinan antara wanita
yang mengalami infertilitas primer dengan wanita yang mengalami infertilitas
sekunder (F=0,341, p=0,562 (p>0,05).
Kesimpulan
:
Kesimpulan yang dapat
diambil dari penelitian ini adalah: dengan mempertimbangkan variabel stres
infertilitas, tidak ada perbedaan yang signifikan kepuasan perkawinan antara wanita
yang mengalami infertilitas primer dengan wanita yang mengalami infertilitas
sekunder.
Faktor-faktor lain yang
lebih mempengaruhi kepuasan perkawinan pada wanita yang mengalami infertilitas
adalah congruence sang isteri dengan pasangannya dalam menghadapi infertilitas
yang dialami, kualitas komunikasi dengan pasangan, serta kesamaan ideologi.
5.
Judul : Antara
Harapan dan Takdir : Pada Perempuan Infertil.
Abstrak :
Infertilitas merupakan masa
krisis bagi orang yang mengalaminya. Tujuan penelitian ini ialah mengeksplorasi
gambaran psikologis yang dialami perempuan infertil hingga sampai tahap
resolution to infertility. Dengan pendekatan fenomenologis, peneliti melakukan
wawancara kepada empat perempuan yang memiliki masalah infertilitas. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan infertil akan melalui tahap period
of grief sebelum masuk ke tahap penerimaan terhadap infertilitas. Gambaran
psikologis yang paling sering ditunjukkan informan ialah perasaan sedih, cemas,
dan stres. Proses penerimaan dicapai para informan dengan pertama-tama memaknai
kepemilikan anak sebagai takdir dari Tuhan. Pemaknaan akan takdir ini
selanjutnya memunculkan harapan bahwa Tuhan bisa memberikan anak pada masa
depan. Harapan menjadi sumber utama kekuatan bagi para informan penelitian
dalam menerima kondisi infertilitas. Hasil penelitian juga mengungkap
faktor-faktor protektif dan risiko yang mampu mempengaruhi keberhasilan
perempuan infertil dalam menjalani program kehamilan. Faktor-faktor protektif
meliputi aspek spiritualitas, marital benefit, dukungan sosial, dan coping
mechanism, sedangkan faktor-faktor risiko meliputi tekanan sosial, kesibukan
suami dalam pekerjaan, dan hubungan negatif antara pasien dan tenaga kesehatan
profesional. Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan bagi tenaga
profesional kesehatan dalam memberikan bantuan medis dan psikologis bagi
perempuan infertile.
Kesimpulan :
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa untuk bisa sampai pada resolution to infertility, perempuan infertil akan
melalui tahap period of grief dan tahap penerimaan terhadap infertilitas yang
dialami. Kondisi psikologis yang paling terlihat pada perempuan infertil adalah
munculnya perasaan sedih, emas, dan juga muncul stres terutama dalam mengikuti
program kehamilan.
Untuk bisa masuk pada tahap
resolution to infertility, perempuan infertil harus melalui proses penerimaan
terhadap infertilitas. Bentuk penerimaan yang ditunjukkan informan penelitian
adalah dengan menganggap bahwa kehadiran anak dalam pernikahan adalah sebuah
takdir yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Paradoksnya, justru dalam pemaknaan
tentang infertilitas sebagai takdir inilah, muncul harapan bahwa Tuhan mungkin
akan memberi anak pada suatu masa nanti. Harapan ini merupakan kekuatan yang
mampu mendorong perempuan infertil untuk terus berusaha dan menganggap bahwa
masih ada kesempatan seorang perempuan untuk bisa hamil melalui usaha-usaha
yang dilakukan.
Ditemukan pula faktor
protektif dan faktor risiko yang mampu mempengaruhi keberhasilan perempuan
infertil dalam menjalani program kehamilan. Faktor protektif tersebut meliputi
aspek spiritualitas, marital benefit, dukungan sosial, dan coping mechanism.
Faktor risiko tersebut meliputi tekanan sosial, tuntutan profesi suami yang
sibuk, dan hubungan negatif antara pasien dan tenaga kesehatan profesional.
6.
Judul : Faktor-faktor
yang Memengaruhi Infertilitas pada Wanita
di Klinik Fertilitas Endokrinologi Reproduksi.
Abstrak :
Infertilitas adalah
kegagalan untuk memperoleh kehamilan setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan
seksual secara teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi. Secara global
diperkirakan adanya kasus infertilitas pada 8-10% pasangan. Infertilitas
dikategorikan menjadi dua yaitu infertilitas primer dan infertilitas sekunder.
Tingginya persentase faktor wanita yang menyebabkan infertilitas serta
berdasarkan data terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas
pada wanita maka peneliti tertarik untuk meneliti faktor-faktor yang
mempengaruhi infertilitas pada wanita. Penelitian ini merupakan penelitian
observasional deskriptif dengan desain cross sectional (potong lintang)
berdasarkan data sekunder, yaitu rekam
medik. Mayoritas (71%) wanita infertil dalam penelitian ini berada pada rentang
umur 2535 tahun. Sebanyak 66.1% wanita infertil merupakan wanita karir.
Rata-rata wanita infertil (69.4%) berdomisili di Palembang. Mayoritas wanita
infertil (61.3%) mengalami infertilitas lebih dari tiga tahun. Berdasarkan
jenis infertilitas, sebanyak 79% merupakan infertilitas primer. Jenis pemeriksaan
lanjutan yang paling banyak dilakukan adalah pemeriksaan USG dan Laparoskopi
diagnostik. Endometriosis (25.6%) dan mioma uteri (20.2%) merupakan jenis
penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada wanita infertil. Jenis
tatalaksana terbanyak yang dilakukan adalah dengan tindakan operatif (55%).
Sebagian besar wanita infertil yang menjadi sampel dalam penelitian ini
merupakan wanita infertil jenis infertilitas primer yang berumur 25-35 tahun
dengan lama infertil diatas tiga tahun. Penyakit penyerta yang banyak ditemukan
pada wanita infertil adalah endometriosis dan mioma uteri.
Kesimpulan :
Setelah dilakukan penelitian
mengenai faktor-faktor yang memengaruhi Infertilitas pada wanita didapatkan
kesimpulan antara lain: berdasarkan umur, wanita infertil yang datang ke Klinik
Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RSMH Palembang paling banyak berada pada
kelompok umur 25-35 tahun. Sebagian besar wanita infertil merupakan wanita
karir yaitu sebanyak 41 orang (66.1%) dengan jenis pekerjaan yang paling banyak
yaitu PNS dan Swasta. Rata-rata wanita infertil bertempat tinggal di Palembang
yaitu sebanyak 43 orang (69.4%). Lama infertilitas yang paling banyak, dijumpai
pada kelompok wanita infertil adalah dengan lama infertil diatas 3 tahun
(61.3%). Berdasarkan jenis infertilitas yang dialami wanita infertil, sebanyak
49 orang (79%) merupakan infertilitas primer. Jenis pemeriksaan lanjutan yang
paling banyak dilakukan oleh wanita infertil adalah pemeriksaan USG dan
Laparoskopi diagnostik. Penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada
wanita infertil yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah endometriosis
dan mioma uteri.
7.
Judul : Logam
Berat, Radiasi, Diet, Rokok, Alkohol dan Obat-obatan Sebagai Penyebab
Infertilitas Pria.
Abstrak :
Infertilitas pada pria dapat
disebabkan berbagai faktor seperti logam berat, radiasi, diet, rokok, alkohol,
dan obat-obatan. Logam berat yang sering dihubungkan sebagai penyebab gangguan
proses spermatogenesis adalah timbal dan kadmium. Radiasi pada intensitas
tinggi dapat menyebabkan kerusakan sperma atau mutasi. Konsumsi yang mengandung kortison dan leptin
dalam jumlah banyak dapat mempengaruhi produksi FSH dan LH yang mengakibatkan kuantitas
sperma berkurang. Asap rokok dapat mengakibatkan penurunan kuantitas atau
kualitas sperma pada perokok aktif maupun pasif. Sedangkan alkohol dan obat-obatan dapat
menurunkan fertilitas pria melalui jalur gangguan sistem hormon
reproduksi. Gangguan hormonal dapat
menyebabkan gangguan spermatogenesis, sehingga terjadi gangguan kualitas atau
kuantitas sperma.
Kesimpulan :
Faktor penyebab
infertilisasi pria antara lain logam berat, radiasi, diet, rokok, alkohol, dan
obat-obatan. Logam berat menyebabkan gangguan proses metabolisme yang
menghasilkan energi. Radiasi dapat meningkatkan suhu tubuh, termasuk testis
sehingga proses spermatogenesis terganggu. Diet pada pria obesitas banyak
mengandung kortison dan leptin yang dapat menyebabkan menurunnya motilitas
sperma. Rokok mengandung zat-zat yang
menyebabkan penurunan kuantitas dan motilitas spermaserta menyebabkan
abnormalitas sperma. Alkohol menyebabkan infertilitas pria melalui penurunan
kadar testosteron tubuh. Sedangkan beberapa obat-obatan menyebabkan
infertilitas pria melalui gangguan hormonal, menekan spermatogenesis, dan
penurunan motilitas sperma (HH).
8.
Judul : Analisis
Kesehatan Reproduksi Wanita Ditinjau Dari Riwayat Kesehatan Reproduksi Terhadap
Infertilitas Di RS Margono Soekardjo Tahun 2015.
Abstrak :
Infertilitas adalah suatu
kondisi dimana pasangan suami istri belum mampu memiliki anak walaupun telah melakukan hubungan seksual sebanyak 2-3
kali seminggu dalam kurun waktu 1 tahun dengan tanpa menggunakan alat kontrasepsi
jenis apapun (Djuwantono, 2008). Pasangan infertil di Indonesia tahun 2013
adalah 50 juta pasangan atau 15-20% dari seluruh pasangan yang ada (Riskesdas,
2013). Studi pendahuluan yang peneliti lakukan di RSUD Prof. Dr. Margono
Soekarjo menunjukkan bahwa kejadian infertilitas dari tahun 2012 sampai 2014
mengalami peningkatan, yang mana jumlah kejadian infertilitas pada tahun 2012
sebanyak 23 kasus, tahun 2013 sebanyak 29 kasus dan tahun 2014 sebanyak 110
kasus. Penyebab infertilitas wanita diantaranya masalah vagina yaitu vaginitis,
masalah di serviks yaitu servisitis, uterus, tuba dan masalah di ovarium yaitu
kista ovarium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan natara
vaginitis dan kista ovarium terhadap infertilitas pada wanita. Penelitian ini
merupakan survey analitik dengan pendekatan case control. Populasi adalah data
sekunder semua wanita usia subur di poli kandungan RS Margono Soekarjo sejumlah
52 responden. Analisa menggunakan uji chi square dan regresi logistic. Hasil
penelitian menunjukan wanita usia subur yang menderita vaginitis sebanyak
(53.8%), menderita pembesaran kista ovarium 48.1%), adanya hubungan antara
vaginitis dan infertilitas (p=0.000), ada hubungan antara pembesaran kista
ovarium dengan infertilitas (p=0.019), dan dan faktor yang paling mempengaruhi
terjadinya infertilitas yaitu pembersaran kista ovarium (OR=0.339).
Kesimpulan :
Berdasarkan penelitian diambil kesimpulan sebagai
berikut :
a. Antara kasus
(infertile) dan control (fertile) jumlahnya sama.
b. Sebagian besar responden
menderita vaginitis.
c. Sebagian besar
responden menderita pembesaran kista.
d. Ada Hubungan
antara vaginitis dan infertilitas.
e. Ada Hubungan
antara pembesaran kista dan infertilitas.
f. Faktor yang
paling berpengaruh terhadap kejadian infertilitas adalah vaginitis.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Infertilitas
bukan semata-mata disebabkan oleh faktor yang berasal dari wanita, seperti
infeksi vagina, disfungsi seksual, lingkungan vagina yang terlalu asam,
kelainan serviks, sumbatan di tuba falopii dan gangguan ovulasi. Faktor-faktor
pada diri pria juga dapat berperan, seperti faktor koitus, kelainan
anatomi,spermatogenesis abnormal, masalah ejakulasi, faktor pekerjaan, infeksi
dan masalah interaktif.
Infertilitas
membawa implikasi psikologis, terutama pada perempuan. Sumber tekanan
sosio-psikologis pada perempuan berkaitan erat dengan kodrat deterministiknya
untuk mengandung dan melahirkan anak. Sementara pada laki-laki adalah perasaan
sedih, kecewa, kecemasan dan kekhawatiran menghadapi masa tua.
Dampak
yang ditimbulkan dari infertilitas memang tidak mengancam jiwa, tetapi
berdampak besar bagi kehidupan berkeluarga dan keadaan psikologis pada
penderita
B.
Saran
-
Bagi Petugas Kesehatan
Bagi petugas kesehatan khususnya bidan disarankan
memberikan informasi kepada wanita usia subur cara untuk mencegah infertilitas
serta dapat melakukan deteksi dini gangguan kesehatan reproduksi yang dapat
menyebabkan infertilitas.
-
Bagi Wanita Usia Subur
Wanita usia subur hendaknya segera memeriksakan diri
ke tenaga kesehatan apabila dijumpai tanda gejala vaginitis dan pembesaran
kista sehingga dapat segera ditangani sehingga dapat mencegah infertilitas.
-
Bagi Puskesmas / Pelayanan Kesehatan Dasar
Bagi Puskesmas / Pelayanan kesehatan dasar agar
meningkatkan peran sertanya, yaitu dalam mengadakan penyuluhan kesehatan tentang
vagintis, pembesarn kista dan dampaknya terhadap infertilitas. 4. Bagi Peneliti
Lain Untuk melengkapi hasil penelitian ini perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut dengan menganalisis faktor – faktor lain yang mempengaruhi terjadinya
infertilitas.
DAFTAR PUSTAKA
Asrih,
Y. et al (2016). Asuhan Kebidanan
Patologi. Jakarta : TIM
Hidayah, N.
(2012) Identifikasi dan Pengelolaan Stress Ifertilitas. Dalam Google
Scholar [Online]. Vol. 4 No. 1.
Tersedia : http://jogjapress.com/index.php/HUMANITAS/article/view/707. [Januari].
Hidayah, N (2006). Perbedaan
Kepuasan Perkawinan AntaraWanita Yang Mengalami Infertilitas Primer dan
Infertilitas Sekunder. Dalam Google Scholar [Online]. Vol. 3 No. 1. Tersedia : https://doaj.org/article/c0ba4170ca324dab964a219945c2ce9f. [Januari
2006].
Idris, R. et al (2006). Logam
Berat, Radiasi, Diet, Rokok, Alkohol dan Obat-obatan Sebagai Penyebab
Infertilitas Pria. Dalam Google Scholar [Online]. Vol. 10 No. 2. Tersedia : http://jki.ui.ac.id/index.php/jki/article/view/176. [2006].
Nurkhasanah, S. (2016) Hubungan
Infertil Dengan Respon Psikologis Istri Yang Mengalami Infertil Di Kota Padang
Tahun 2015. Dalam Google Scholar [Online].
Vol 7 No. 1. Tersedia : http://ejurnal.stikesprimanusantara.ac.id/index.php/JKPN/article/view/298. [Januari
2016].
Nurhasyanah. (2012) Faktor-faktor
yang Memengaruhi Infertilitas pada Wanita
di Klinik Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Dalam Google Scholar [Online]. Vol. 1 No. 1. Tersedia : http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jppp/article/view/345/293. [Oktober
2012].
Oktariana, A. et al (2014) Faktor-faktor
yang Memengaruhi Infertilitas pada Wanita
di Klinik Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Dalam Google Scholar
[Online]. No. 4. Tersedia : http://ejournal.unsri.ac.id/index.php/mks/article/download/2722/pdf. [Oktober 2014].
Tedjawidjadja, W. dan Rahardanto, M.S. (2015) Antara Harapan dan Takdir : Pada Perempuan Infertil. Dalam Google
Scholar [Online]. Vol. 3 No. 1.
Tersedia : http://journal.wima.ac.id/index.php/EXPERIENTIA/article/view/783. [Juli 2015].
Trisnawati, Y. (2015). Analisis
Kesehatan Reproduksi Wanita Ditinjau Dari Riwayat Kesehatan Reproduksi Terhadap
Infertilitas Di RS Margono Soekardjo Tahun 2015. Dalam Google Scholar [Online]. Vol 07 No.02 Tersedia :
http://journal.stikeseub.ac.id/index.php/jkeb/article/view/179. [Desember
2015].
Komentar
Posting Komentar